Tampilkan postingan dengan label Modul Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modul Kepribadian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2008

Teratur dalam segala urusan

Teratur dalam segala urusan

Tawadzun
Teratur dalam kehidupan berarti kita menerapkan keseimbangan dalam kehidupan kita Semua yang ada di alam ini berdasarkan hukum keseimbangan sehingga terjadi keteraturan, begitu juga dalam kehidupan manusia. Manusia akan berhasil dalam kehidupannya jika ia menerapkan prinsip keteraturan.
Teratur dalam semua hal, walaupun itu urusan yang kecil akan semakin menghemat waktu kita dan mengefisienkan kerja kita. Hal tersebut akan mendorong kita ke arah perbaikan diri dan pencapaian tujuan yang efektif. Mulailah dengan hal kecil sekarang juga tepat dikatakan untuk menerapkan prinsip teratur dalam semua urusan. Urusan terkecil ini misalnya mulai dengan keseharian kita. Menata kamar dan tempat tidur kita walaupun itu sepele tapi merupakan langkah awal yang perlu dimulai. Dengan menaruh benda-benda pada tempatnya kita akan menghemat waktu mencari jika sewaktu-waktu kita membutuhkannya lagi.
Jadwal harian akan semakin membantu kita untuk teratur. Di dalam lingkungan selalu ada peraturan yang dibuat, baik itu tertulis atau tidak. Peraturan tersebut berguna untuk menjaga keteraturan kehidupan kita, maka hendaknya kita menaatinya. Walaupun peraturan tersebut tidak bersangsi.
Untuk mematuhinya kita harus tahu tata tertib apa saja yang berlaku di lingkungan kita, misalnya saja di sekolah. Setelah tahu sebagai seorang warga yang bertanggung jawab kita harus mematuhinya. Sekali lagi dengan mematuhi tata tertib tersebut akan membawa dampak keteraturan dalam setiap sendi kehidupan yang diatur di dalamnya .


Referensi :

1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Al-Qardhawi, Yusuf(1996). Manajemen Waktu (cet II). Terjemahan.Bandung:Penerbit Pustaka
3. Prayitno, Irwan Dr (2002). Ma’rifah Al-Insaan (cetakan II). Bekasi : Pustaka Tarbiatuna.

Mencintai Allah dan RasulNya

Mencintai Allah dan RasulNya

Mencintai Allah SWT
Allah memberikan kita kehidupan, rizki di dunia ini, begitu banyak yang diberikan Allah untuk kita, jika kita menghitungnya maka tidaklah cukup seluruh hidup kita ini untuk membalas apa yang diberikan Allah untuk kita.
Allah begitu mencintai kita, sudah sepatutnyalah sebagai manusia yang tahu diri kita membalas semua ini dengan bersyukur dan mencintai Allah SWT. Untuk mencintai seseorang maka kita perlu mengenal segalanya tentang orang tersebut, begitu juga dengan mencintai Allah.
Ma’rifatullah atau mengenal Allah adalah hal utama yang harus disempurnakan oleh seorang muslim. Harus tertanam di hati bahwa Allah adalah Rabb sekalian alam.
Cara mengenal Allah yang salah akan membawa kita kepada pengenalan yang salah. Hanya cara yang Allah berikan dan tunjukkan yang dapat diikuti, cara mengenal Allah adalah melalui ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Melalui kedua ayat ini dapat dicontohkan misalnya mengenal Allah melalui akal dan fitrah, pendengaran dan penglihatan,mu’jizat dan sebagainya.
Ayat kauniyah adalah ayat yang ada di alam semesta berupa fenomena yang menunjukkan kebesaran Allah, salah satunya tentang fenomena terjadinya alam (QS 52:35), fenomena tentang kehidupan (ada dzat pencipta yang membentuk, menentukan riski dan menuiupkan ruh pada dirinya).
Ayat Qauliyah yaitu ayat-ayat Allah yang ada dalam Al Qur’an; kisah-kisah tentang umat-umat terdahulu berita tentang kejadian yang akan datang (kekalahan bangsa persia dari bangsa romawi, QS 30:1-3).

Cinta Rasul
Makna Rasul adalah penyampai, pembawa kebenaran dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. Sedangkan misi utama diutusnya rasul ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia; “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlaq”. (hadits)
Mengenal Rasul adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mengamalkan Islam secara sempurna. Tanpa Rasul kita tidak dapat melaksanakan Islam dengan baik. Kehadiran Rasul memberikan panduan dan bimbingan kepada kita bagaimana cara mengamalkan Islam. Dengan demikian Rasul adalah penting bagi sebagai metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengenal Rasul tidak saja dalam bentuk fisik atau penampilannya tetapi segala aspek syar’i berupa sunnah yang disampaikan Nabi kepada kita antara lain, tingkah laku, perkataan ataupun sikap.
Pengenalan kepada Rasul juga pengenalan kepada Allah dan Islam. Rasul dikenal sebagai pribadi teladan dan lelaki terpilih di antara manusia yang sangat layak dijadikan model bagi setiap muslim. Rasulullah Muhammad SAW adalah pribadi agung suri tauladan utama bagi umat manusia.

“Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” ( Q.S : Al-ahzab:21 ).

Kewajiban kita terhadap Rasulullah adalah,
1. Beriman kepadanya ( 4:136, 7:158)
2. Taat dan mengikutinya (4:80, 3:31, 32). Allah telah memberikan kabar tentang kerugian besar dan penyesalan yang mendalam bagi seseorang yang mengetahui ajaran Nabi SAW kemudian tidak taat dan tidak mengikutinya (25:27, 29).
3. Mencintainya.
Seorang muslim wajib mencintai nabi Muhammad SAW melebihi cintanya kepada segala sesuatu (9:23-24).
Referensi :

1. Buku Panduan Mentoring Medis (2003).
2. Modul materi dan Kisi-kisi Mentoring PBA Universitas Airlangga (2001).

Ibadah yang benar

Ibadah yang benar

Makna Ibadah
Allah telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah, bahkan kegiatan ibadah ini tidak saja dilakukan oleh manusia sekarang setelah Nabi SAW, tetapi ibadah ini merupakan kegiatan manusia sebelum nabi SAW. Ibadah tidak hanya terbatas pd kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun ibadah ritual yang terdiri dari shalat, puasa, zakat, dan haji. Ibadahpun mencakuplebih dari ibadah sunnah dan dzikir, tilawah, do’a, istighfar, tasbih, tahlil, dan tahmid. Disampig itu ibadahpun mencakup semua pergaulan yang baik, menunaikan hak-hak para hamba Allah seperti; berbakti pd orang tua, menyambung silaturahim, mencari riski yang halal, menjaga kesehatan tubuh, berbuat baik kepada anak yatim, mengasihi kaum lemah hingga menyayangi binatang. Ibadahpun mencakup semua tatakrama manusia, dalam bentuk kejujuran perkataan, melaksanakan amanat, menepati janji dan lain sebagainya.
Singkat kata ibadah kepada Allah mencakup seluruh aspek kehidupan, dari mulai etika makan dan minum, buang hajat hingga melampiaskan hasrat seksual kepada pasangan yang dihalalkan . dan juga masalah mendirikan negara, politik pemerintahan, manajemen ekonomi, hukum dan aturan dalam masyarakat serta dasar hubungan internasional dalam kondisi damai atau perang.

Firman Allah QS 51:56
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku “

Ibadah yang benar adalah ibadah yang kita laksanakan dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala dan berdasarkan ilmu tentang aturan ibadah itu sendiri. Persyaratan ibadah mesti berdasarkan dalil yang kuat dan dicontohkan oleh Nabi SAW sebagai amalan ibadahnya. Perlunya ilmu dalam ibadah agar ibadah dapat diterima di sisi Allah SWT. Ibadah yang tidak berdasarkan sunnah Nabi SAW maka telah melaksanakan bid’ah yang ditentang oleh Allah SWT. Rasul bersabda setiap bid’ah adalah ditolak dan yang ditolak adalah masuk neraka. Karena bahayanya beribadah tidak mengikuti syarat, maka diperlukan pengetahuan tentang persyaratan apa saja dalam beribadah sehingga diterima oleh Allah SWT.

Puasa yang benar dan waktu-waktunya
Puasa adalah menahan makan dan minum dan segala hal yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Ibadah puasa hukumnya ada dua, wajib dan sunnah. Adapun puasa wajib adalah puasa pada satu bulan penuh di bulan ramadhan dan puasa nadzar.
Mulai dari terbit fajar ditandai dengan imsak,sebelum subuh. Tenggelamnya matahari ditandai dengan waktu shalat maghrib. Sedangkan hal-hal yang membatalkan puasa antara lain,
1. makan dan minum pada waktu yang ditentukan untuk puasa dengan sengaja, kalau tidak disengaja, misalnya lupa maka itu tidak membatalkan puasa.
2. muntah yang disengaja, sekalipun tidak ada yang kembali ke dalam. Jika tidak sengaja, tidak membatalkan puasa.
3. bersetubuh
4. keluar darah haid (kotoran) atau nifas (darah sehabis melahirkan)
5. gila, jika gila tersebut datang pada waktu puasa.
6. keluar mani secara sengaja, tapi jika karena bermimpi maka tidak membatalkan.
Berpuasa pada dasarnya berfungsi mengendalikan hawa nafsu pada diri tiap orang sehingga dapat terkendali dan terarah pada hal-hal positif.

Keutamaan shalat tepat waktu :
Usman bin Affan ra berkata, saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda barang siapa yang sembahyang Isya’ berjamaah seolah-olah ia bangun setengah malam dan barang siapa yang sembahyang subuh berjamaah maka bagaikan sembahyang satu malam penuh, (HR Bukhari)

“shalat pada wal waktu adalah keridhaan Allah dan shalat pada akhir waktu adallah pengampunan Allah” (HR At-Tirmidzi)

Referensi :

1. Modul materi dan Kisi-kisi Mentoring PBA Universitas Airlangga (2001).
2. Buku Panduan Mentoring Medis (2003).

Bisa memanfaatkan waktu dengan baik

Bisa memanfaatkan waktu dengan baik
Manajemen waktu
Kewajiban pertama seorang Muslim terhadap waktu adalah menjaganya sebagaimana ia menjaga hartanya, dan bersungguh-sungguh mengambil manfaat dari waktu yang dimilikinya untuk agama dan dunianya.
Orang beriman hendaknya dapat mengatur waktunya untuk berbagai kewajiban dan aktivitas, baik yang berkaitan dengan agama maupun berkaitan dengan dunia, sehingga aktivitas-aktivitasnya tidak saling bertabrakan.
Diantara nikmat-nikmat yang banyak dilupakan, tidak diketahui nilainya, dan tidak disyukuri oleh banyak orang adalah nikmat waktu luang. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Ada dua nikmat di antara sekian nikmat Allah yang membuat banyak orang merugi, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
Waktu luang tidak akan luang selamanya. Ia harus diisi dengan kebajikan atau kejelekan. Berbahagialah orang yang mengisi waktu luangnya dengan kebaikan dan kesalehan dan celakalah orang yang mengisinya dengan kejelekan dan kerusakan. Maka sebagai seorang yang beriman hendaknya kita mengisi waktu luang kita dengan beribadah dan berlomba-lomba dalam kebajikan.

Referensi :

1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Al-Qardhawi, Yusuf(1996). Manajemen Waktu (cet II). Terjemahan.Bandung:Penerbit Pustaka

Berwawasan luas

Berwawasan luas

Manusia dianugrahi oleh Allah akal, pendengaran dan penglihatan untuk mencari kebenaran di dunia ini. Akal perlu diisi dengan ilmu. Allah SWT sering menyuruh kita untuk menggunakan akal. Allah pun telah mengajarkan dan memberikan banyak ilham bagi manusia dari peristiwa alam melalui Al Qur’an sehingga kemudian muncul banyak teori-teori sains yang dikeluarkan sebagai bukti keagungan dan kebesaran Allah. Selain itu, akal juga digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Seorang muslim harus berwawasan luas, Al Qur’an sebagai petunjuk hidup umat manusia banyak mengisyaratkan tentang pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kedudukan yang tinggi bagi para ilmuwan.
Rasulullah sendiri terkenal kecerdasan beliau dalam mengemban amanah sehingga beliau diberi gelar fatonah (orang yang cerdas).
Dunia sekarang sudah memasuki globalisasi dan pasar bebas, maka dari itu diperlukan wawasan luas bagi seorang muslim agar tidak terpengaruh dan terperosok menjadi korban dari keadaan itu. Penguasaan ilmu menjadi hal yang wajib jika kita tidak mau diremehkan dan menjadi yang tertindas di dunia ini. Dan sebagai umat Islam kita harus mempunyai semangat itu. Umat Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan umat yang tertindas di tengah globalisasi.
Organisasi juga tempat belajar. Dalam organisasi diajarkan penerapan ilmu, komunikasi dan sosialisasi. Organisasi juga tempat untuk menerapkan salah satu potensi kita, banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari sebuah organisasi. Internet adalah cara lain untuk mendapatkan informasi. Informasi yang kita dapatkan orisinil dari seluruh belahan dunia, internet memungkinkan kita mempunyai wawasan yang lebih luas lagi. Tapi kita juga wajib memilah-milah info mana yang baik bagi kita, sebab keterbukaan informasi sangat berlaku di dalam internet. Disamping itu masih banyak sarana lain yang ada seiring dengan perkembangan zaman seperti CD room, electronic library, jurnal-jurnal ilmu pengetahuan dan lain-lain. Hal yang perlu kita ingat adalah wawasan itu sendiri harus memberikan manfaat bagi kita dan bila diterapkan mendatangkan manfaat positif bagi kita dan atau masyarakat.

Referensi :
1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat.

Berusaha untuk mandiri

Berusaha untuk mandiri

Hidup mandiri bukan berarti kita hidup menyendiri tanpa sosialisasi, tapi yang dimaksud mandiri adalah menjalankan tugas yang diberikan untuk kita dengan kemampuan kita sendiri. Tidak menggantungkan segala sesuatu pada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya kita mencuci atau menyeterika baju sendiri, menyiapkan keperluan sekolah sendiri tanpa bantuan orang tua.
Keuntungan dari hidup mandiri banyak sekali, diantaranya tidak menyulitkan orang lain. Walaupun orang lain bersedia membantu tapi lebih baik mengerjakan tugas kita sendiri jika kita mampu walaupun hasilnya tidak seberapa tapi kita mendapat kepuasan tersendiri, misalnya saja tugas menggambar.

Kemandirian dalam keuangan

Islam mengharamkan meminta-minta, bahkan menyatakan bahwa sebaik-baiknya ibadah adalah bekerja. Sesungguhnya bekerja merupakan sunnah para Nabi, dan sebaik-baiknya usaha adalah mencari nafkan dengan kemampuan tangan sendiri. Islam juga mencela penganggur yang hidup dari belas kasihan masyarakat, dengan alasan apapun.
Aplikasi dari prinsip ini antara lain, menjauhi sumber penghasilan haram, menjauhi riba, membayar zakat, menabung sedikit demi sedikit, tidak menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan berpenghasilan. Mengutamakan produk umat Islam, tidak membelanjakan harta kepada non-muslim.


Referensi :

1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat.

Bersungguh-sungguh menahan hawa nafsu

Bersungguh-sungguh menahan hawa nafsu

Makna Berpuasa
Puasa menurut bahasa Arab adalah menahan dari segala sesuatu seperti menahan makan, minum, hawa nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat, dan sebagainya.
Puasa adalah menahan makan dan minum dan segala hal yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Ibadah puasa hukumnya ada dua, wajib dan sunnah. Puasa bulan Ramadhan hukumnya wajib ( Al Baqarah 183-184).
Puasa pada dasarnya berfungsi mengendalikan hawa nafsu pada diri setiap orang sehingga dapat terkendali dan terarah pada hal-hal positif. Tujuan puasa adalah untuk mencapai derajat taqwa, yaitu keadaan di mana seorang muslim tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Puasa mendidik orang berdisiplin terhadap waktu, melatih menahan dan mengendalikan diri dari keininan-keinginan dan dorongan-dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
Seorang muslim harus selalu bersungguh-sungguh dalam kehidupannya, menghadapi segala sesuatu dengan penuh semangat, tidak santai dalam hal-hal yang serius, dan tidak menganggap ringan atau menunda-nunda ketika bekerja. Tak ada keberhasilan yang dapat diperoleh tanpa kesungguhan. Kesadaran bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat dan kehidupan abadi adalah kehidupan di akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan. Allah SWT berfirman

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar....” ( QS 46:35)


Referensi :

1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Buku Panduan Mentoring Medis (2003).
3. Modul materi dan Kisi-kisi Mentoring PBA Universitas Airlangga (2001).

Bermanfaat bagi orang lain

Bermanfaat bagi orang lain

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” ( QS 21: 107)

Nabi Muhammad dengan tegas menyebutkan definisi orang baik. “Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.
Berguna bagi orang lain dapat beragam bentuknya, dapat berupa sumbangan immaterial, seperti pemikiran, ide, nasehat, ajaran atau keteladanan. Bisa juga berupa sumbangan materi seperti uang, fasilitas, dan lain-lain. Pendek kata sumbangan tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Harga dan kedudukan manusia ditentukan oleh ukuran manfaat dan pengaruh perbuatannya terhadap kehidupan orang lain, seperti menunjukkan mereka ke jalan yang baik, mengeluarkan mereka dari kesusahan, mengangkat mereka dari kezhaliman, menyelamatkan mereka dari jurang kehinaan, menjaga mereka dari musuh atau perbuatan-perbuatan lain yang bermanfaat bagi individu, masyarakat atau umat sekitarnya.
Pentingnya bermanfaat bagi orang lain telah kita ketahui, maka tidak ada salahnya jika kita mulai menerapkannya dimulai dari hal yang kecil. Misalnya saja dalam keseharian kita dengan membantu orang tua, membantu teman kita yang sedang membutuhkan bantuan, dan lain-lain.
Referensi :

1. Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat.
2. Prayitno, Irwan Dr (2002). Ma’rifah Al-Insaan (cetakan II). Bekasi : Pustaka Tarbiatuna.

Bermanfaat bagi orang lain

Bermanfaat bagi orang lain

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” ( QS 21: 107)

Nabi Muhammad dengan tegas menyebutkan definisi orang baik. “Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.
Berguna bagi orang lain dapat beragam bentuknya, dapat berupa sumbangan immaterial, seperti pemikiran, ide, nasehat, ajaran atau keteladanan. Bisa juga berupa sumbangan materi seperti uang, fasilitas, dan lain-lain. Pendek kata sumbangan tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Harga dan kedudukan manusia ditentukan oleh ukuran manfaat dan pengaruh perbuatannya terhadap kehidupan orang lain, seperti menunjukkan mereka ke jalan yang baik, mengeluarkan mereka dari kesusahan, mengangkat mereka dari kezhaliman, menyelamatkan mereka dari jurang kehinaan, menjaga mereka dari musuh atau perbuatan-perbuatan lain yang bermanfaat bagi individu, masyarakat atau umat sekitarnya.
Pentingnya bermanfaat bagi orang lain telah kita ketahui, maka tidak ada salahnya jika kita mulai menerapkannya dimulai dari hal yang kecil. Misalnya saja dalam keseharian kita dengan membantu orang tua, membantu teman kita yang sedang membutuhkan bantuan, dan lain-lain.
Referensi :

1. Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat.
2. Prayitno, Irwan Dr (2002). Ma’rifah Al-Insaan (cetakan II). Bekasi : Pustaka Tarbiatuna.

Badan yang sehat

Badan yang sehat

Jasad atau fisik diberikan Allah kepada manusia untuk melengkapi kesempurnaan Islamnya. Hadits Nabi SAW menyebutkan bahwa jasad yang kuat lebih dicintai Allah daripada jasad yang lemah. Jasad adalah modal manusia untuk beramal. Allah dan Rasul juga menyuruh manusia menjaga jasadnya dari makanan dan minuman yang tidak halal dan berlebih lebihan dalam makan dan minum (QS Al Maidah 3). Makanan haram hanya akan membuat dosa kita semakin bertambah, do’a kita ditangguhkan dan akan menggiring kita kearah kemaksiatan. Potensi yang Allah berikan ini perlu disyukuri dengan cara memelihara dan menjaganya sehingga kita bisa bekerja dengan baik.
Nabi SAW pernah bersabda,
“Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan ia pun dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dalam setiap kebaikan. Bersegeralah dalam hal yang bermanfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah. “(HR Muslim)


Referensi :

1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Prayitno, Irwan Dr (2002). Ma’rifah Al-Insaan (cetakan II). Bekasi : Pustaka Tarbiatuna.

Akhlak yang baik

Akhlak yang baik

Akhlak yang mulia adalah kesempurnaan iman. Nabi Saw bersabda,
“ Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya. “ ( HR at-Tirmidzi

Akhlak menempati kedudukan yang tinggi dalam Islam. Di antara risalah agama yang paling penting, adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi SAW :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Pentingnya menjaga lisan dan sopan kepada orang lain
Yang dimaksud adalah menjaga ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut agar selalu berkata yang baik, bermanfaat, sopan dan tidak menyakiti orang lain.
Allah berfirman dalam surat al-Baqarah 263
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik daripada bersedekah yang diikuti dengan sesuatu yang menyakitkan (hati si penerima) Allah MahaKaya lagi Maha Penyantun”.
Jikalau kita tidak bisa berkata baik dan bermanfaat lebih baik diam. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Syaikhan)
Perumpamaan kata baik dan kalimat atau ucapan yang jelek, dimana ucapan yang baik diumpamakan sebagaimana pohon yang rindang akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit serta selalu menghasilkan buahnya yang segar setiap musim. Sedangkan ucapan jelek diumpamakan pohon yang buruk akarnya tercabut dari bumi sehingga tidak bisa berdiri tegak bahkan tumbang.

Memilih teman yang baik
Lingkungan yang baik akan membawa pengaruh baik bagi kita baik dari segi gaya hidup, sikap dan ketauladanan yang kita dari dari situ. Memilih teman yang baik merupakan suatu syarat jika kita ingin merubah diri kita menjadi lebih baik. Karena selurus-lurusnya niat kita untuk memperbaiki diri, dan sekeras-kerasnya kita berjuang jika itu tidak didukung dengan lingkungan yang kondusif maka menjadi seorang yang baik akan sulit terealisasi.
Mengenai memilih teman Islam mempunyai adabnya, sifat-sifat yang disyaratkan tentang orang yang dipilih menjadi teman,
1. Orang yang berakal. Karena akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan jika bergaul dengan orang yang bodoh, karena bisa saja dia hendak memberi manfaat kepadamu tapi justru memberi mudharat.
2. Baik akhlaknya. Ini merupakan keharusan. Sebab banyak orang berakal yang dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsunya, sehingga tidak ada manfaatnya bergaul dengannya.
3. Bukan orang yang fasik. Sebab orang fasik tidak ada takut kepada Allah. Orang yang tidak takut kepada Allah tentu sulit dipercaya dan sewaktu-waktu orang lain tidak aman tipu dayanya.
4. Bukan ahli bid’ah. Karena akan mempengaruhi kita dengan bid’ahnya.
5. Tidak rakus terhadap dunia

Referensi :

1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Buku Panduan Mentoring Medis (2003). Haqqi, Ahmad Mu’adz Dr (1993). Berhias dengan 40 Akhlaqul Karimah (cetakan I). terjemahan. Malang : Cahaya Tauhid Pess.
3. Modul materi dan Kisi-kisi Mentoring PBA Universitas Airlangga (2001).
Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat