Badan yang sehat
Jasad atau fisik diberikan Allah kepada manusia untuk melengkapi kesempurnaan Islamnya. Hadits Nabi SAW menyebutkan bahwa jasad yang kuat lebih dicintai Allah daripada jasad yang lemah. Jasad adalah modal manusia untuk beramal. Allah dan Rasul juga menyuruh manusia menjaga jasadnya dari makanan dan minuman yang tidak halal dan berlebih lebihan dalam makan dan minum (QS Al Maidah 3). Makanan haram hanya akan membuat dosa kita semakin bertambah, do’a kita ditangguhkan dan akan menggiring kita kearah kemaksiatan. Potensi yang Allah berikan ini perlu disyukuri dengan cara memelihara dan menjaganya sehingga kita bisa bekerja dengan baik.
Nabi SAW pernah bersabda,
“Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan ia pun dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dalam setiap kebaikan. Bersegeralah dalam hal yang bermanfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah. “(HR Muslim)
Referensi :
1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Prayitno, Irwan Dr (2002). Ma’rifah Al-Insaan (cetakan II). Bekasi : Pustaka Tarbiatuna.
Rabu, 17 September 2008
Akhlak yang baik
Akhlak yang baik
Akhlak yang mulia adalah kesempurnaan iman. Nabi Saw bersabda,
“ Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya. “ ( HR at-Tirmidzi
Akhlak menempati kedudukan yang tinggi dalam Islam. Di antara risalah agama yang paling penting, adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi SAW :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Pentingnya menjaga lisan dan sopan kepada orang lain
Yang dimaksud adalah menjaga ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut agar selalu berkata yang baik, bermanfaat, sopan dan tidak menyakiti orang lain.
Allah berfirman dalam surat al-Baqarah 263
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik daripada bersedekah yang diikuti dengan sesuatu yang menyakitkan (hati si penerima) Allah MahaKaya lagi Maha Penyantun”.
Jikalau kita tidak bisa berkata baik dan bermanfaat lebih baik diam. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Syaikhan)
Perumpamaan kata baik dan kalimat atau ucapan yang jelek, dimana ucapan yang baik diumpamakan sebagaimana pohon yang rindang akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit serta selalu menghasilkan buahnya yang segar setiap musim. Sedangkan ucapan jelek diumpamakan pohon yang buruk akarnya tercabut dari bumi sehingga tidak bisa berdiri tegak bahkan tumbang.
Memilih teman yang baik
Lingkungan yang baik akan membawa pengaruh baik bagi kita baik dari segi gaya hidup, sikap dan ketauladanan yang kita dari dari situ. Memilih teman yang baik merupakan suatu syarat jika kita ingin merubah diri kita menjadi lebih baik. Karena selurus-lurusnya niat kita untuk memperbaiki diri, dan sekeras-kerasnya kita berjuang jika itu tidak didukung dengan lingkungan yang kondusif maka menjadi seorang yang baik akan sulit terealisasi.
Mengenai memilih teman Islam mempunyai adabnya, sifat-sifat yang disyaratkan tentang orang yang dipilih menjadi teman,
1. Orang yang berakal. Karena akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan jika bergaul dengan orang yang bodoh, karena bisa saja dia hendak memberi manfaat kepadamu tapi justru memberi mudharat.
2. Baik akhlaknya. Ini merupakan keharusan. Sebab banyak orang berakal yang dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsunya, sehingga tidak ada manfaatnya bergaul dengannya.
3. Bukan orang yang fasik. Sebab orang fasik tidak ada takut kepada Allah. Orang yang tidak takut kepada Allah tentu sulit dipercaya dan sewaktu-waktu orang lain tidak aman tipu dayanya.
4. Bukan ahli bid’ah. Karena akan mempengaruhi kita dengan bid’ahnya.
5. Tidak rakus terhadap dunia
Referensi :
1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Buku Panduan Mentoring Medis (2003). Haqqi, Ahmad Mu’adz Dr (1993). Berhias dengan 40 Akhlaqul Karimah (cetakan I). terjemahan. Malang : Cahaya Tauhid Pess.
3. Modul materi dan Kisi-kisi Mentoring PBA Universitas Airlangga (2001).
Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat
Akhlak yang mulia adalah kesempurnaan iman. Nabi Saw bersabda,
“ Seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya. “ ( HR at-Tirmidzi
Akhlak menempati kedudukan yang tinggi dalam Islam. Di antara risalah agama yang paling penting, adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda Nabi SAW :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Pentingnya menjaga lisan dan sopan kepada orang lain
Yang dimaksud adalah menjaga ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut agar selalu berkata yang baik, bermanfaat, sopan dan tidak menyakiti orang lain.
Allah berfirman dalam surat al-Baqarah 263
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik daripada bersedekah yang diikuti dengan sesuatu yang menyakitkan (hati si penerima) Allah MahaKaya lagi Maha Penyantun”.
Jikalau kita tidak bisa berkata baik dan bermanfaat lebih baik diam. Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Syaikhan)
Perumpamaan kata baik dan kalimat atau ucapan yang jelek, dimana ucapan yang baik diumpamakan sebagaimana pohon yang rindang akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit serta selalu menghasilkan buahnya yang segar setiap musim. Sedangkan ucapan jelek diumpamakan pohon yang buruk akarnya tercabut dari bumi sehingga tidak bisa berdiri tegak bahkan tumbang.
Memilih teman yang baik
Lingkungan yang baik akan membawa pengaruh baik bagi kita baik dari segi gaya hidup, sikap dan ketauladanan yang kita dari dari situ. Memilih teman yang baik merupakan suatu syarat jika kita ingin merubah diri kita menjadi lebih baik. Karena selurus-lurusnya niat kita untuk memperbaiki diri, dan sekeras-kerasnya kita berjuang jika itu tidak didukung dengan lingkungan yang kondusif maka menjadi seorang yang baik akan sulit terealisasi.
Mengenai memilih teman Islam mempunyai adabnya, sifat-sifat yang disyaratkan tentang orang yang dipilih menjadi teman,
1. Orang yang berakal. Karena akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan jika bergaul dengan orang yang bodoh, karena bisa saja dia hendak memberi manfaat kepadamu tapi justru memberi mudharat.
2. Baik akhlaknya. Ini merupakan keharusan. Sebab banyak orang berakal yang dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsunya, sehingga tidak ada manfaatnya bergaul dengannya.
3. Bukan orang yang fasik. Sebab orang fasik tidak ada takut kepada Allah. Orang yang tidak takut kepada Allah tentu sulit dipercaya dan sewaktu-waktu orang lain tidak aman tipu dayanya.
4. Bukan ahli bid’ah. Karena akan mempengaruhi kita dengan bid’ahnya.
5. Tidak rakus terhadap dunia
Referensi :
1. Al-Hilali, Majdi Dr (1999). 38 Sifat Generasi Unggulan (cet I). Terjemahan.Jakarta : Gema Insani Press.
2. Buku Panduan Mentoring Medis (2003). Haqqi, Ahmad Mu’adz Dr (1993). Berhias dengan 40 Akhlaqul Karimah (cetakan I). terjemahan. Malang : Cahaya Tauhid Pess.
3. Modul materi dan Kisi-kisi Mentoring PBA Universitas Airlangga (2001).
Lubis, Satria Hadi (2004). Unstoppable Succes (cetakan I). Jakarta : Misykat
Komunikasi Efektif
Komunikasi Efektif
Komunikasi adalah aktifitas menyampaikan apa yang ada di pikiran, konsep yang kita miliki, dan keinginan yang ingin kita sampaikan pada orang lain. Dalam proses komunikasi diperlukan minimal tiga komponen, yaitu : penyampai, media, dan penerima. Gangguan pada salah satu komponen menyebabkan komunikasi tidak efektif dan efisien.
Diskusi : Bagaimana menjadi komunikator yang baik ?
Anggota diajak untuk mendiskusikan cara menjadi komunikator yang baik. Setelah muncul beberapa usulan, diberikan penjelasan dan tips sebagai berikut :
TIPS Berkomunikasi
1. Menyampaikan informasi dengan kata-kata yang jelas dan tidak bermakna ganda
2. Berbicaralah dengan tegas dan tidak berbelit-belit
3. Memahami lawan bicara
4. Menyampaikan informasi sesuai dengan bahasa, kemampuan, dan pemahaman penerima
5. Menyampaikan informasi dengan lemah lembut dan cara yang baik, serta penuh hikmah
Pastikan informasi diterima dengan benar oleh penerima
Komunikasi adalah aktifitas menyampaikan apa yang ada di pikiran, konsep yang kita miliki, dan keinginan yang ingin kita sampaikan pada orang lain. Dalam proses komunikasi diperlukan minimal tiga komponen, yaitu : penyampai, media, dan penerima. Gangguan pada salah satu komponen menyebabkan komunikasi tidak efektif dan efisien.
Diskusi : Bagaimana menjadi komunikator yang baik ?
Anggota diajak untuk mendiskusikan cara menjadi komunikator yang baik. Setelah muncul beberapa usulan, diberikan penjelasan dan tips sebagai berikut :
TIPS Berkomunikasi
1. Menyampaikan informasi dengan kata-kata yang jelas dan tidak bermakna ganda
2. Berbicaralah dengan tegas dan tidak berbelit-belit
3. Memahami lawan bicara
4. Menyampaikan informasi sesuai dengan bahasa, kemampuan, dan pemahaman penerima
5. Menyampaikan informasi dengan lemah lembut dan cara yang baik, serta penuh hikmah
Pastikan informasi diterima dengan benar oleh penerima
Kerja Sama dalam Tim
Kerja Sama dalam Tim
Tim adalah kumpulan orang (2 atau lebih);mereka memiliki tujuan yang ingin dicapai, mereka memiliki norma, mereka memiliki ikatan untuk bekerja bersama-sama. Tim yang paling solid seperti tubuh manusia (hikmah): sebuah sistem utuh yang unik, baik, dan ideal, banyak komponen. Bekerjalah dengan struktur yang rapi, seperti bangunan yang kokoh. (QS.Ash-Shaff, 61:4).Untuk membangun tim yang baik, maka ikatlah hati anggotanya dengan akidah dan nilai-nilai transendental,itulah pentingnya visi dan misi bersama dalam tim. (QS. Al-Anfaal, 8: 63)
Agar tim kita solid, maka kita perlu memahami hal- hal sebagai berikut :
1. Saling mengenal, memahami, dan membentuk ikatan hati antar anggota tim.
2. Membangun rasa senasib sepenanggungan dan komunikasi yang efektif antar anggota tim
3. Pemanfaatan potensi individu untuk membangun kinerja tim yang efektif dan produktif
4. Mengembangkan kreativitas dan mengelola permasalahan dengan baik
5. Proses pengambilan keputusan didasarkan musyawarah mufakat dan efektivitas-efisiensi
Games : „Bujursangkar Berantakan“
Penugasan :
Anggota dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5-8 orang. Mereka ditugaskan membentuk panitia kecil untuk kegiatan diklat BSMR
Referensi
Wibowo, B. S, dkk. SHOOT Trustco. 2002, Bandung: Asy Syamil
Tim adalah kumpulan orang (2 atau lebih);mereka memiliki tujuan yang ingin dicapai, mereka memiliki norma, mereka memiliki ikatan untuk bekerja bersama-sama. Tim yang paling solid seperti tubuh manusia (hikmah): sebuah sistem utuh yang unik, baik, dan ideal, banyak komponen. Bekerjalah dengan struktur yang rapi, seperti bangunan yang kokoh. (QS.Ash-Shaff, 61:4).Untuk membangun tim yang baik, maka ikatlah hati anggotanya dengan akidah dan nilai-nilai transendental,itulah pentingnya visi dan misi bersama dalam tim. (QS. Al-Anfaal, 8: 63)
Agar tim kita solid, maka kita perlu memahami hal- hal sebagai berikut :
1. Saling mengenal, memahami, dan membentuk ikatan hati antar anggota tim.
2. Membangun rasa senasib sepenanggungan dan komunikasi yang efektif antar anggota tim
3. Pemanfaatan potensi individu untuk membangun kinerja tim yang efektif dan produktif
4. Mengembangkan kreativitas dan mengelola permasalahan dengan baik
5. Proses pengambilan keputusan didasarkan musyawarah mufakat dan efektivitas-efisiensi
Games : „Bujursangkar Berantakan“
Penugasan :
Anggota dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5-8 orang. Mereka ditugaskan membentuk panitia kecil untuk kegiatan diklat BSMR
Referensi
Wibowo, B. S, dkk. SHOOT Trustco. 2002, Bandung: Asy Syamil
UKHUWAH ISLAMIYAH (Persaudaraan Islam)
UKHUWAH ISLAMIYAH (Persaudaraan Islam)
Menumbuhkan kesadaran untuk memelihara persaudaraan serta menjauhkan diri dari perpecahan, merupakan realisasi pengakuan jiwa pada hakikatnya kedudukan manusia adalah sama dihadapan Allah SWT, sebagai hamba dan khalifahNya. Tidak ada perbedaan di antara hamba Allah, tiadalah seseorang dari yang lain, kecuali ketaqwaan mereka kepada Allah (QS. Al Hujurat (49): 10-13).
Persaudaraan ini adalah konsekuensi iman. Kita telah mengetahui hak muslim atas sesama muslim. Berbuat baik dalam arti luas harus mencakup nilai-nilai ruhani dan lahiriyah. Nilai ruhaniyah yaitu iman dan aqidah serta segala bentuk perbuatan yang bersifat ubudiyah (penghambaan diri kepada Maha Pencipta). Nilai lahiriyah, yaitu segala perbuatan yang berhubungan dengan sesama hamba Allah di dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga sampai kepada lingkungan masyarakat bahkan negara. Pengertiannya adalah tidak benar seseorang yang baik ibadahnya tetapi perbuatannya merugikan
masyarakat, sebaliknya tidak benar seorang yang baik di mata masyarakat tetapi ibadahnya sembarangan. Hal ini karena seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah tidaklah mengharapkan balas jasa ataupun upah melainkan Allah semata.
Hak-hak Ukhuwah Islamiyah
1. Mengucapkan salam
2. Menjawab salam
3. Menjenguk orang sakit
4. Mengiringi jenazah
5. Memenuhi undangan
6. Mendo’akan orang yang bersin
7. Benar dalam bersumpah
8. Menolong orang yang didzalimi
9. Memperhatikan nasehat
10. Melepaskan kesulitan dan kesusahan
11. Membantu orang yang sedang dalam kesulitan
12. Menutupi aib saudaranya
13. Menjauhkan diri dari sifat yang menyakitkan orang lain, seperti : dengki, benci, zalim, dan sombong
Hak-hak ukhuwah di atas merupakan prinsip-prinsip dalam hidup bermasyarakat yang harus dipenuhi oleh setiap muslim.
Hal-Hal yang Menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Saling mencintai dikalangan orang-orang beriman merupakan tuntutan syari'at dan sangat dicintai agama. Oleh karena itu, Islam mengajarkan jalan yang dapat memperkuat ukhuwah tersebut, di antaranya :
1. Saling memberi hadiah.
2. Memanggilnya dengan nama kesukaannya baik di saat dia tidak ada ataupun di saat ada dihadapannya
3. Menyanjungnya dengan kebaikan-kebaikannya yang kita ketahui, karena hal ini termasuk sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta.
4. Membelanya ketika dia tidak ada.
Demikianlah, persaudaraan dalam Islam, hendaklah sungguh-sungguh berjalan di atas landasan keikhlasan, berjalan berdasarkan hukum-hukum syar'i dan hukum akhlak, yang kiprahnya di masyarakat dijiwai oleh semangat ukhuwah islamiyah dan memerlukan pengorbanan yang pada suatu ketika kepentingan pribadi dikalahkan oleh kepentingan umum.
Referensi: 1. Rusmiati S.Pd dkk. , Panduan Mentoring Agama Islam 2, 2003, Jakarta: Iqro Club
2. Ulwan ,Abdullah Nashih , Dr. , Al Ukhuwah Islamiyah, 2001, Jakarta : Al I’tishom
Menumbuhkan kesadaran untuk memelihara persaudaraan serta menjauhkan diri dari perpecahan, merupakan realisasi pengakuan jiwa pada hakikatnya kedudukan manusia adalah sama dihadapan Allah SWT, sebagai hamba dan khalifahNya. Tidak ada perbedaan di antara hamba Allah, tiadalah seseorang dari yang lain, kecuali ketaqwaan mereka kepada Allah (QS. Al Hujurat (49): 10-13).
Persaudaraan ini adalah konsekuensi iman. Kita telah mengetahui hak muslim atas sesama muslim. Berbuat baik dalam arti luas harus mencakup nilai-nilai ruhani dan lahiriyah. Nilai ruhaniyah yaitu iman dan aqidah serta segala bentuk perbuatan yang bersifat ubudiyah (penghambaan diri kepada Maha Pencipta). Nilai lahiriyah, yaitu segala perbuatan yang berhubungan dengan sesama hamba Allah di dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga sampai kepada lingkungan masyarakat bahkan negara. Pengertiannya adalah tidak benar seseorang yang baik ibadahnya tetapi perbuatannya merugikan
masyarakat, sebaliknya tidak benar seorang yang baik di mata masyarakat tetapi ibadahnya sembarangan. Hal ini karena seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah tidaklah mengharapkan balas jasa ataupun upah melainkan Allah semata.
Hak-hak Ukhuwah Islamiyah
1. Mengucapkan salam
2. Menjawab salam
3. Menjenguk orang sakit
4. Mengiringi jenazah
5. Memenuhi undangan
6. Mendo’akan orang yang bersin
7. Benar dalam bersumpah
8. Menolong orang yang didzalimi
9. Memperhatikan nasehat
10. Melepaskan kesulitan dan kesusahan
11. Membantu orang yang sedang dalam kesulitan
12. Menutupi aib saudaranya
13. Menjauhkan diri dari sifat yang menyakitkan orang lain, seperti : dengki, benci, zalim, dan sombong
Hak-hak ukhuwah di atas merupakan prinsip-prinsip dalam hidup bermasyarakat yang harus dipenuhi oleh setiap muslim.
Hal-Hal yang Menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Saling mencintai dikalangan orang-orang beriman merupakan tuntutan syari'at dan sangat dicintai agama. Oleh karena itu, Islam mengajarkan jalan yang dapat memperkuat ukhuwah tersebut, di antaranya :
1. Saling memberi hadiah.
2. Memanggilnya dengan nama kesukaannya baik di saat dia tidak ada ataupun di saat ada dihadapannya
3. Menyanjungnya dengan kebaikan-kebaikannya yang kita ketahui, karena hal ini termasuk sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta.
4. Membelanya ketika dia tidak ada.
Demikianlah, persaudaraan dalam Islam, hendaklah sungguh-sungguh berjalan di atas landasan keikhlasan, berjalan berdasarkan hukum-hukum syar'i dan hukum akhlak, yang kiprahnya di masyarakat dijiwai oleh semangat ukhuwah islamiyah dan memerlukan pengorbanan yang pada suatu ketika kepentingan pribadi dikalahkan oleh kepentingan umum.
Referensi: 1. Rusmiati S.Pd dkk. , Panduan Mentoring Agama Islam 2, 2003, Jakarta: Iqro Club
2. Ulwan ,Abdullah Nashih , Dr. , Al Ukhuwah Islamiyah, 2001, Jakarta : Al I’tishom
Mengenal Diri
Mengenal Diri
Ada tiga tingkatan konsep diri:
1. Aku Diri: Aku seperti yang aku pahami
Itu adalah cara Anda mempersepsi diri. Setiap kita memiliki pemahaman seperti itu adanya. Ada pemahaman yang terbentuk secara tidak sadar, tetapi setiap kita mengetahui bahwa kita itu seperti yang kita pahami.
2. Aku Sosial: Aku seperti yang dipahami oleh orang lain yang ada di sekitar aku
Cara orang memahami kita juga mempengaruhi diri sendiri, misal di rumah. Sewaktu-waktu Anda pulang dengan membawa laporan hasil ujian dengan beberapa angka yang her. Tapi OK-lah Anda bisa naik ke semester selanjutnya. Dan ketika Anda memberikannya kepada orang tua, ternyata mereka berkomentar, "Ya, sudah bagus." Semester depan Anda menghadapi kondisi yang sama seperti yang pernah terjadi.
Dengan perlakuan seperti itu Anda akan berpikir bahwa diri Anda sudah cukup bagus (berdasarkan ungkapan orang tua). Dan standar kualitas yang bagus menurut Anda adalah sesuai dengan hasil yang Anda peroleh. Karena Bapak Anda membuat standar bagus adalah yang penting lulus, maka perlahan-lahan cara perlakuan seperti itu menanamkan pengertian bahwa Anda sudah cukup bagus.
Tetapi bila Anda pulang dengan nilai rata-rata 7, orang tua yang dahulunya ketika kuliah memiliki nilai rata-rata 9, akan berkomentar, "Ya..., cuma segitu." Komentar seperti itu dapat memiliki dua pengaruh; Anda terdorong dan tertantang, atau Anda mati kutu sama sekali, dengan komentar, "Sudah dapat nilai 7 digituin!”
Anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang sering menyanjungnya, memiliki konsep diri yang berbeda dengan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang selalu mengkritiknya.
Contoh:
Ada seorang anak usia 2 tahun yang sedang belajar menghafal kata, mengucapkannya, dan menirukannya. Anak belajar dengan cara trial and error. Akan tetapi cara anak memperbaiki kesalahannya selalu dipengaruhi komentar orang-orang di sekelilingnya (ada yang menertawakan, memperbaiki, memarahinya dan lain-lain). Perlakuan seperti ini akan mempengaruhi perkembangan si anak dan secara perlahan-lahan akan mempengaruhi persepsi anak tentang dirinya.
Proses pembentukan makna dibentuk secara kumulatif dalam diri seseorang, misalnya kata prestasi, berbeda cara kita memahaminya. Dari sejak SD sampai mati dan masing-masing mempengaruhi cara kita memahami diri kita.
3. Aku Ideal: Aku yang aku inginkan
Ada orang yang begitu kuat keyakinan tentang aku idealnya.Aku ideal adalah sosok dirinya sendiri yang dicita-citakan oleh orang tersebut. Namun aku ideal tidak dapat terwujud tanpa disertai usaha yang maksimal.
Contoh:
Ada seorang teman yang ingin masuk ke SMU favorit. Dia sebenarnya anak yang cerdas, tetapi kurang rajin belajar, karena beranggapan bahwa dia bisa mencapai nilai tinggi. Akhirnya pada saat pengumuman penerimaan siswa baru, namanya tidak tercantum.
Kadang-kadang orang memiliki sifat yang terlalu ideal karena tidak mendasari aku idealnya dengan aku dirinya. Atau karena tidak mengetahui subjek apa yang ada dalam aku diri ini untuk di-upgrade menjadi aku ideal. Ada juga orang yang hanya punya aku diri, tidak punya aku ideal.
Ada tiga tingkatan konsep diri:
1. Aku Diri: Aku seperti yang aku pahami
Itu adalah cara Anda mempersepsi diri. Setiap kita memiliki pemahaman seperti itu adanya. Ada pemahaman yang terbentuk secara tidak sadar, tetapi setiap kita mengetahui bahwa kita itu seperti yang kita pahami.
2. Aku Sosial: Aku seperti yang dipahami oleh orang lain yang ada di sekitar aku
Cara orang memahami kita juga mempengaruhi diri sendiri, misal di rumah. Sewaktu-waktu Anda pulang dengan membawa laporan hasil ujian dengan beberapa angka yang her. Tapi OK-lah Anda bisa naik ke semester selanjutnya. Dan ketika Anda memberikannya kepada orang tua, ternyata mereka berkomentar, "Ya, sudah bagus." Semester depan Anda menghadapi kondisi yang sama seperti yang pernah terjadi.
Dengan perlakuan seperti itu Anda akan berpikir bahwa diri Anda sudah cukup bagus (berdasarkan ungkapan orang tua). Dan standar kualitas yang bagus menurut Anda adalah sesuai dengan hasil yang Anda peroleh. Karena Bapak Anda membuat standar bagus adalah yang penting lulus, maka perlahan-lahan cara perlakuan seperti itu menanamkan pengertian bahwa Anda sudah cukup bagus.
Tetapi bila Anda pulang dengan nilai rata-rata 7, orang tua yang dahulunya ketika kuliah memiliki nilai rata-rata 9, akan berkomentar, "Ya..., cuma segitu." Komentar seperti itu dapat memiliki dua pengaruh; Anda terdorong dan tertantang, atau Anda mati kutu sama sekali, dengan komentar, "Sudah dapat nilai 7 digituin!”
Anak-anak yang tumbuh dalam dunia yang sering menyanjungnya, memiliki konsep diri yang berbeda dengan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang selalu mengkritiknya.
Contoh:
Ada seorang anak usia 2 tahun yang sedang belajar menghafal kata, mengucapkannya, dan menirukannya. Anak belajar dengan cara trial and error. Akan tetapi cara anak memperbaiki kesalahannya selalu dipengaruhi komentar orang-orang di sekelilingnya (ada yang menertawakan, memperbaiki, memarahinya dan lain-lain). Perlakuan seperti ini akan mempengaruhi perkembangan si anak dan secara perlahan-lahan akan mempengaruhi persepsi anak tentang dirinya.
Proses pembentukan makna dibentuk secara kumulatif dalam diri seseorang, misalnya kata prestasi, berbeda cara kita memahaminya. Dari sejak SD sampai mati dan masing-masing mempengaruhi cara kita memahami diri kita.
3. Aku Ideal: Aku yang aku inginkan
Ada orang yang begitu kuat keyakinan tentang aku idealnya.Aku ideal adalah sosok dirinya sendiri yang dicita-citakan oleh orang tersebut. Namun aku ideal tidak dapat terwujud tanpa disertai usaha yang maksimal.
Contoh:
Ada seorang teman yang ingin masuk ke SMU favorit. Dia sebenarnya anak yang cerdas, tetapi kurang rajin belajar, karena beranggapan bahwa dia bisa mencapai nilai tinggi. Akhirnya pada saat pengumuman penerimaan siswa baru, namanya tidak tercantum.
Kadang-kadang orang memiliki sifat yang terlalu ideal karena tidak mendasari aku idealnya dengan aku dirinya. Atau karena tidak mengetahui subjek apa yang ada dalam aku diri ini untuk di-upgrade menjadi aku ideal. Ada juga orang yang hanya punya aku diri, tidak punya aku ideal.
Manajemen Diri
Manajemen Diri
Pentingnya waktu
“ Demi masa ...sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”
QS. Al ‘Ashr (103) : 1-3
Waktu adalah milik manusia yang paling berharga. Oleh karena itu pergunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu apabila telah lewat tidak akan dapat diharapkan kembali lagi. Berbeda dengan sesuatu benda yang telah hilang, masih mungkin ditemukan kembali .QS. An Naazi'aat (79): 46.
Waktu adalah kehidupan dan modal manusia yang sebenarnya. Barangsiapa yang memikirkan kewajiban yang harus dilakukan, ia akan menemukannya lebih banyak kewajiban daripada waktu yang tersedia. Ibnu Mas’ud berkata, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu, melebihi penyesalan akan hari dimana matahari terbenam dan ajalku berkurang sedangkan amalku belum bertambah”. Sebenarnya kebodohan dalam membelanjakan waktu jauh lebih bahaya daripada kebodohan membelanjakan harta. Orang-orang yang memubadzirkan dan membuang-buang waktu mereka dengan percuma lebih berhak untuk mendapatkan perawatan daripada mereka yang memubadzirkan harta, karena harta bisa diganti, sedangkan waktu tidak ada gantinya.
Mensyukuri Nikmat Umur.
Di antara sekian banyak nikmat Allah yang kita pakai dan pergunakan setiap hari, maka yang sangat kita rasakan adalah ni'mat umur yang kita pakai sekarang ini.
Umur yang kita pakai sekarang ini akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah nantinya, untuk apa umur kita habiskan. Pada waktu itu tidak dapat berdusta sedikitpun, sebab seluruh anggota badan menjadi saksi tentang apa dan untuk apa dipergunakan umur yang sekian puluh tahun dipakai. Sabda Nabi Muhammad SAW:" Belum lagi hilang jejak telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga kepadanya telah diajukan empat pertanyaan :
1. Dari hal umurnya, kemana dihabiskan
2. Dari hal tubuhnya, untuk apa dipakainya |
3. Dari hal ilmunya, apa yang sudah diamalkannya dengan ilmunya
4. Dari hal harta, dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya" (HR. Turmudzi)
Bagi manusia yang beriman kepada Allah, pasti mempercayai bahwa suatu saat yang telah ditentukan umurnya akan bercerai dengan badannya bila ajalnya telah datang dan dia berpulang ke rahmatullah untuk mempertanggungjawabkan umurnya kepada Allah. Bila kepercayaan itu sudah tumbuh dan sudah menjadi keyakinan yang kuat, tentunya setiap orang akan berhati-hati terhadap sisa umurnya, sebelum datang ajalnya untuk mencapai husnul khatimah, yaitu penghabisan umur yang baik.
Oleh karenanya kita sama-sama ingat pada pesan Nabi Muhammad SAW mengenai penggunaan segala kesempatan dalam hidup ini sebagaimana dikemukakan sebagai berikut, Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima hal:
1. Pergunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu
2. Pergunakanlah lapangmu sebelum datang kesempitanmu
3. Pergunakanlah mudamu sebelum datang tuamu
4. Pergunakanlah kayamu sebelum datang kemiskinanmu
5. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu."
(HR. Baihaqi)
Akibat Tidak Memanfaatkan Waktu
1. Kekosongan Akal
Akal merupakan mutiara terbesar yang dimiliki manusia.Manusia tanpa mengfungsikan akal untuk mengenai Rabbnya, maka nilainya tidak ubah seperti binatang (QS. Al Anfaal (8): 22).
Karenanya kita harus menyadari pentingnya pengisian akal dengan sesuatu yang bermanfaat yaitu tadabbur (memperhatikan) Allah SWT dengan kewajiban yang harus dipenuhi, serta tafakkur (memikirkan) makhluk-makhluk ciptaanNya, QS. An Nahl (16): 12.
2. Kekosongan Hati
Hati laksana bejana tempat bersemayamnya iman dan juga hawa nafsu (QS. Al Hujuraat (49): 7). Hendaklah mewaspadai penyakit-penyakit hati yang akan menjerumuskan dirinya pada kehancuran, diantaranya adalah dengki, dendam dan benci kepada sesama manusia, takabur, sombong, hasad, iri hati dan sebagainya. Hendaklah memberi makan hati dengan banyak mengingat Allah SWT melalui mendengar dan membaca Al Qur'an serta memperbanyak do'a. Letaknya hati ada di dalam jiwa. Apabila tidak disibukkan dengan aktivitas positif, maka ia akan menyibukkan kita dengan aktivitas kebatilan. Menyibukkan jiwa dengan kebaikan ialah dengan menyucikan, mendidik, dan menarik tali kekangnya dari perkara yang batil (QS. Asy Syam (91): 9-10).
Kewajiban Muslim Terhadap Waktu
1. Menjaga dan memanfaatkan waktu
2. Tidak menyia-nyiakan waktu
3. Mengisi kekosongan dengan perbuatan yang mendatangkan kebaikan
4. Berlomba-lomba dalam kebaikan (QS Al Baqarah(2); 148)
5. Belajar dari perjalanan hari demi hari (QS. An Nuur(24):44)
6. Mengatur waktu
7. Bagi tiap waktu ada aktivitas tertentu
8. Memilih waktu-waktu yang istimewa
Bagaimana Cara Mengelola Waktu dengan Baik?
1. Menyusun aktivitas atau kegiatan harian kita pada setiap pagi dengan mencatat hal-hal yang akan dikerjakan, dan teliti saat mengerjakan.
2. Jika berjanji dengan seseorang, pastikan kedua belah pihak mematuhi waktu.
3. Memanfaatkan waktu luang dengan membaca, menghafal, tilawah Al Qur’an atau melakukan sesuatu hal yang positif.
Simulasi Kasus
Ana murid kelas 2 SMP, dia aktif di beberapa extra kurikuler, dan dia juga mengikuti les bahasa Inggris dan bimbingan belajar di luar sekolah. Karena aktivitas Ana yang padat, dia jadi tidak bisa membantu ibunya di rumah, dia terlalu lelah untuk belajar dan mengerjakan PR nya. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Jelaskan alasanmu!
Referensi:
Rusmiati S.Pd dkk. , Panduan Mentoring Agama Islam 1&2, 2003, Jakarta: Iqro Club
Pentingnya waktu
“ Demi masa ...sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”
QS. Al ‘Ashr (103) : 1-3
Waktu adalah milik manusia yang paling berharga. Oleh karena itu pergunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu apabila telah lewat tidak akan dapat diharapkan kembali lagi. Berbeda dengan sesuatu benda yang telah hilang, masih mungkin ditemukan kembali .QS. An Naazi'aat (79): 46.
Waktu adalah kehidupan dan modal manusia yang sebenarnya. Barangsiapa yang memikirkan kewajiban yang harus dilakukan, ia akan menemukannya lebih banyak kewajiban daripada waktu yang tersedia. Ibnu Mas’ud berkata, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu, melebihi penyesalan akan hari dimana matahari terbenam dan ajalku berkurang sedangkan amalku belum bertambah”. Sebenarnya kebodohan dalam membelanjakan waktu jauh lebih bahaya daripada kebodohan membelanjakan harta. Orang-orang yang memubadzirkan dan membuang-buang waktu mereka dengan percuma lebih berhak untuk mendapatkan perawatan daripada mereka yang memubadzirkan harta, karena harta bisa diganti, sedangkan waktu tidak ada gantinya.
Mensyukuri Nikmat Umur.
Di antara sekian banyak nikmat Allah yang kita pakai dan pergunakan setiap hari, maka yang sangat kita rasakan adalah ni'mat umur yang kita pakai sekarang ini.
Umur yang kita pakai sekarang ini akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah nantinya, untuk apa umur kita habiskan. Pada waktu itu tidak dapat berdusta sedikitpun, sebab seluruh anggota badan menjadi saksi tentang apa dan untuk apa dipergunakan umur yang sekian puluh tahun dipakai. Sabda Nabi Muhammad SAW:" Belum lagi hilang jejak telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga kepadanya telah diajukan empat pertanyaan :
1. Dari hal umurnya, kemana dihabiskan
2. Dari hal tubuhnya, untuk apa dipakainya |
3. Dari hal ilmunya, apa yang sudah diamalkannya dengan ilmunya
4. Dari hal harta, dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya" (HR. Turmudzi)
Bagi manusia yang beriman kepada Allah, pasti mempercayai bahwa suatu saat yang telah ditentukan umurnya akan bercerai dengan badannya bila ajalnya telah datang dan dia berpulang ke rahmatullah untuk mempertanggungjawabkan umurnya kepada Allah. Bila kepercayaan itu sudah tumbuh dan sudah menjadi keyakinan yang kuat, tentunya setiap orang akan berhati-hati terhadap sisa umurnya, sebelum datang ajalnya untuk mencapai husnul khatimah, yaitu penghabisan umur yang baik.
Oleh karenanya kita sama-sama ingat pada pesan Nabi Muhammad SAW mengenai penggunaan segala kesempatan dalam hidup ini sebagaimana dikemukakan sebagai berikut, Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima hal:
1. Pergunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu
2. Pergunakanlah lapangmu sebelum datang kesempitanmu
3. Pergunakanlah mudamu sebelum datang tuamu
4. Pergunakanlah kayamu sebelum datang kemiskinanmu
5. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu."
(HR. Baihaqi)
Akibat Tidak Memanfaatkan Waktu
1. Kekosongan Akal
Akal merupakan mutiara terbesar yang dimiliki manusia.Manusia tanpa mengfungsikan akal untuk mengenai Rabbnya, maka nilainya tidak ubah seperti binatang (QS. Al Anfaal (8): 22).
Karenanya kita harus menyadari pentingnya pengisian akal dengan sesuatu yang bermanfaat yaitu tadabbur (memperhatikan) Allah SWT dengan kewajiban yang harus dipenuhi, serta tafakkur (memikirkan) makhluk-makhluk ciptaanNya, QS. An Nahl (16): 12.
2. Kekosongan Hati
Hati laksana bejana tempat bersemayamnya iman dan juga hawa nafsu (QS. Al Hujuraat (49): 7). Hendaklah mewaspadai penyakit-penyakit hati yang akan menjerumuskan dirinya pada kehancuran, diantaranya adalah dengki, dendam dan benci kepada sesama manusia, takabur, sombong, hasad, iri hati dan sebagainya. Hendaklah memberi makan hati dengan banyak mengingat Allah SWT melalui mendengar dan membaca Al Qur'an serta memperbanyak do'a. Letaknya hati ada di dalam jiwa. Apabila tidak disibukkan dengan aktivitas positif, maka ia akan menyibukkan kita dengan aktivitas kebatilan. Menyibukkan jiwa dengan kebaikan ialah dengan menyucikan, mendidik, dan menarik tali kekangnya dari perkara yang batil (QS. Asy Syam (91): 9-10).
Kewajiban Muslim Terhadap Waktu
1. Menjaga dan memanfaatkan waktu
2. Tidak menyia-nyiakan waktu
3. Mengisi kekosongan dengan perbuatan yang mendatangkan kebaikan
4. Berlomba-lomba dalam kebaikan (QS Al Baqarah(2); 148)
5. Belajar dari perjalanan hari demi hari (QS. An Nuur(24):44)
6. Mengatur waktu
7. Bagi tiap waktu ada aktivitas tertentu
8. Memilih waktu-waktu yang istimewa
Bagaimana Cara Mengelola Waktu dengan Baik?
1. Menyusun aktivitas atau kegiatan harian kita pada setiap pagi dengan mencatat hal-hal yang akan dikerjakan, dan teliti saat mengerjakan.
2. Jika berjanji dengan seseorang, pastikan kedua belah pihak mematuhi waktu.
3. Memanfaatkan waktu luang dengan membaca, menghafal, tilawah Al Qur’an atau melakukan sesuatu hal yang positif.
Simulasi Kasus
Ana murid kelas 2 SMP, dia aktif di beberapa extra kurikuler, dan dia juga mengikuti les bahasa Inggris dan bimbingan belajar di luar sekolah. Karena aktivitas Ana yang padat, dia jadi tidak bisa membantu ibunya di rumah, dia terlalu lelah untuk belajar dan mengerjakan PR nya. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Jelaskan alasanmu!
Referensi:
Rusmiati S.Pd dkk. , Panduan Mentoring Agama Islam 1&2, 2003, Jakarta: Iqro Club
Langganan:
Postingan (Atom)
